ZATTODAY.NET – Banda Aceh, Dianggap diam saat rakyatnya susah, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Dapil IV (Aceh Tengah dan Bener Meriah) diminta untuk dievaluasi oleh Partai. Hal ini disampaikan langsung Aktivis muda, Sutris dalam siaran pers resminya kepada media. Selasa, 7 April 2026.
Menurut Sutris, parlemen berasal dari bahasa prancis kuno yang berarti “parler” yang berarti “berbicara”. Ini cukup untuk jadi kesimpulan terhadap sebenarnya apa fungsi anggota dewan.
Kalau kita bandingkan, bagaimana Andre Yunus aktivis HAM yang disiram air keras karena sangat nyaring menyuarakan penolakan terhadap undang undang juga karena persoalan bicara.
Irionisnya mereka yang dijamin oleh Undang Undang berhak berbicara dan tidak bisa dituntut secara pidana dan perdata justru memilih bungkam disaat rakyatnya susah dilanda bencana.
“Tidak ada kejahatan yang lebih keji dari pada membiarkan rakyatnya sendiri kesusahan tertatih berjalan sendiri tanpa ada niat untuk memperbaiki,” Ujar Sutris.
Kekecewaan publik kepada 6 Anggota DPRA Dapil IV bukan tanpa sebab. Minimnya perhatian Pemerintah Aceh kepada wilayah tengah adalah bentuk buruknya upaya 6 anggota dewan tersebut kepada Pemerintah Aceh,” kata Sutris.
Sutris juga menyoroti kurangnya kontribusi 6 anggota DPRA Dapil IV dalam memprioritaskan wilayah tengah dalam agenda pembangunan di Aceh. Banyak ruas jalan dan jembatan provinsi yang rusak, namun minim penanganan.
“Saya iri dengan daerah lain yang memiliki wakil rakyat yang punya keberanian berbicara lantang demi membela rakyatnya,” keluh Sutris.
“Lantas apa sebenarnya kerja DPRA Dapil IV ini ? Kalau ada agenda resmi rapat pembahsan Dewan tersebut hanya datang, duduk dan diam (3D). Dan jika adapun pokir jelas tidak ada yang monumental,” Ujar Sutris.
Aceh Tengah dan Bener Meriah masih dihantui dengan keterisolasian, harga barang naik, biaya distribusi meningkat akibat biaya pengangkutan barang naik. Anehnya, mereka tidak pernah serius menanggapi ini.
Sebagai contoh, Sutris menambahkan bahwa jika 6 anggota DPRA Dapil IV mau membagi pokirnya, maka akan ada 24 Milyar untuk membangun jalan Bener Meriah – Aceh Utara (Jl. KKA).
“Perwakilan kita di Banda Aceh seperti tidak memiliki sensitivitas, mereka seperti pedagang membeli suara kemudian berharap Pokir muntah,” Tutup Sutris. (***)


























