ZATTODAY.NET – Aceh Tengah, Pelayanan kesehatan bagi pasien gangguan jiwa di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Datu Beru, Takengon, menjadi sorotan setelah muncul dugaan kekurangan stok obat esensial. Beberapa keluarga pasien melaporkan bahwa penggantian obat karena tidak tersedia di farmasi rumah sakit justru memperburuk kondisi kejiwaan kerabat mereka, bahkan membuat mereka menjadi lebih agresif. Rabu, 12 November 2025.
Pada selasa (11/11/2025), Salah satu keluarga yang tidak ingin disebutkan namanya mengungkapkan kekecewaannya. “Anak saya sudah bertahun‑tahun menjalani perawatan rutin dengan kondisi stabil, namun setelah beberapa kali mendapatkan obat pengganti dari rumah sakit, kondisinya menurun drastis. Ia kini sering mengamuk dan harus bolak‑balik rumah sakit,” ujarnya dengan nada prihatin.
Keluarga tersebut menuding adanya praktik tidak wajar dalam pengelolaan stok obat di RSUD Datu Beru. “Obat yang katanya kosong di rumah sakit, anehnya ada di apotek lain,” tambahnya.
Muslim, penggiat sosial Aceh Tengah, menilai fenomena ini mengindikasikan adanya penyelewengan atau maladministrasi. “Jika ada oknum yang sengaja menahan atau mengeluarkan obat dari jalur resmi rumah sakit untuk dijual di apotek luar, itu jelas melanggar hukum,” katanya. Ia menambahkan bahwa Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) belum berjalan optimal, sehingga pemantauan stok menjadi kacau dan membuka celah manipulasi.
Menurutnya, kasus ini memerlukan investigasi lebih lanjut dari Inspektorat Daerah, bahkan intervensi Bupati Aceh Tengah, untuk memastikan tidak ada pelanggaran serius yang merugikan pasien rentan.
Respon RSUD Datu Beru Takengon
N. Himawan, SKM, MH, Kepala Humas RSUD Datu Beru Takengon mengatakan. “Saat ini stok obat psikiatri di farmasi lengkap. Informasi dari pasien tentang kekosongan mungkin terjadi karena keterlambatan pengiriman, namun kami segera menanganinya. Kami juga berkoordinasi dengan rumah sakit lain dan apotek untuk meminjam obat bila diperlukan.”
“Pencatatan dilakukan melalui Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS). Kami sedang dalam proses transisi penuh dari pencatatan manual ke digital, karena SIMRS merupakan syarat kerja sama dengan BPJS. Harapan kami, semua obat terdata secara real‑time,” jelasnya.
“Rumah sakit tidak mengganti obat secara sembarangan. Jika obat yang diresepkan tidak tersedia, kami berupaya mempercepat penyediaan obat yang sama atau yang setara sesuai anjuran dokter. Kami memberi waktu kepada pasien untuk mengambil obat yang dibutuhkan dan menekankan bahwa pasien BPJS harus mendapatkan obat sesuai haknya,” kata Himawan.
“Obat yang beredar di pasaran memiliki kode produksi yang berbeda antara yang didistribusikan untuk BPJS (ke rumah sakit) dan yang dijual secara reguler di apotek. Karena perbedaan kode, obat yang sama dapat ditemukan di apotek luar, namun rumah sakit tidak diperbolehkan mengambil obat dari luar karena masalah harga dan regulasi,” sambungnya.
“Audit internal dilakukan secara rutin oleh Komite Farmasi RSUD Datu Beru. Audit mencakup daftar obat sesuai pedoman nasional, pemantauan penggunaan, dan pencegahan pemborosan. Hasil audit digunakan untuk memastikan ketersediaan obat yang tepat,” tegas Himawan.
“RSUD Datu Beru terus memantau kebutuhan obat, terutama untuk pasien gangguan jiwa, dengan mengandalkan data penggunaan tahun‑tahun sebelumnya. Kami memperkuat kerja sama dengan apotek dan rumah sakit lain untuk peminjaman obat saat terjadi kekurangan kritis. Sistem manajemen risiko di farmasi telah diterapkan untuk mengatasi potensi kekosongan,” lanjutnya.
“Kami menghargai masukan dan kritik dari masyarakat serta media, dan siap menindaklanjuti setiap laporan agar pelayanan tetap optimal,” himbau Himawan.
Masyarakat dan pihak terkait berharap agar investigasi dapat dilakukan secara transparan dan langkah konkret diambil untuk mencegah terulangnya kasus serupa. Pihak RSUD Datu Beru menyatakan komitmennya untuk meningkatkan akurasi pencatatan, memperkuat koordinasi logistik, dan memastikan ketersediaan obat esensial bagi semua pasien, khususnya mereka yang membutuhkan perawatan jiwa.


























